Tanggal 26 Juni 2008 dari kampus, saya bareng sohib sekampus turun gunung dikit ke Tamansari. Rencananya si mau ikutan seminar Technopreneurship yang katanya diadain sama mahasiswa Teknik Fisika ITB angkatan 2007. Di ticket box ada beberapa orang mahasiswa yang jaga, dua orang diantaranya merokok (dlm pikiran saya..hmm it’s suck, ga kuat klo mesti ngisep asap sampah salah satunya asap rokok). Pas liat karcis ..eh tiket seminar acara berlangsung tanggal 30 Juni 2008 mulai pukul 08.00 s/d selesai, wah tanggal 30 Juni 2008 kan diniharinya ada Final Euro 2008
.
Pas hari H, saya datang terlambat karena bangun tidurnya juga kesiangan diniharinya nonton Spain vs Germany..salut lah ama spanyol bisa nampilin great performance sejak euro dimulai. Nyampe ke Aula Barat ITB kira-kira jam 08.05-08.10. Sekitar 5-10 menit-an kemudian acara dimulai. Seminar tersebut menghadirkan pembicara yang semuanya dari ITB, yang menarik perhatian saya adalah Pak Onno W Purbo ama Rendy Maulana (pengusaha webhosting Qwords.com). Kenapa ?
Karena saya salut kepada Pak Onno, beliau sudah men-share begitu banyak ilmunya di internet mudah-mudahan semakin nambah orang kreatif+inovatif+ikhlas yang berbagi ilmu di internet seperti Pak Onno. Beberapa file presentasi, how to,dsb yang pernah saya baca yaitu tentang hacking, networking dan wireless antena. (Heuheu Pak saya pernah bikin wajanbolic pake USB adapter pas dicoba emang si banyak hotspot yang ketangkep tapi ga bisa konek ke networknya, kayaknya kebanyakan interferensi kali ya).
Saya juga kagum kepada Mas Rendy Maulana yang udah mulai bisnis webhostingnya sejak kuliah di ITB, pas seminar sebenarnya saya pengen ngacung dan sedikit berkomentar bahwa saya salah satu client Qwords.com yang pernah menggunakan layanan webhostingnya ketika membangun hmjsunpar.com. (Mas Rendy mau komplen ni
, pas bikin hmjsunpar.com saya pernah dari UPINet beberapa kali ga bisa masuk ke control panel webhostingnya hal ini nampaknya bukan karena maintenance qwords.com atau network UPINet soalnya dicoba di warnet sekitar kampus juga sama, dicoba di warnet sekita buahbatu juga begitu. Tanya kenapa ?)
Dari semua hal yang disampaikan pembicara di seminar secara umum saya setuju misalnya menurut Mas Rendy dan Pak Dwilarso teman itu merupakan salah satu modal bagi bisnis kita. Ya tentu saja bagaimana bisa bisnis kita bisa berkembang kalau kita tidak punya teman atau orang yang percaya pada kita. Bisnis itu tidak punya rumus dan model bisnis yang baku, ya bisnis apapun tergantung pelaku bisnis yang menjalankannya bisnisnya mau diarahkan kemana, strategi dan cara berbisnisnya kayak gimana, situasi yang dihadapinya kayak gimana, konsumennya juga kayak gimana semuanya relatif alias tidak baku.
Saya jadi inget ketika ibu dan ayah beliau jualan sambil ngantor ketika itu saya masi SD,kelas 3). Ayah seorang polisi ‘lugu & idealis’ yang ketika itu pangkatnya dobel V merah alias kopral (klo ga salah inget) sambil ngantor beliau jualan(kontan/kredit) jaket ke rekan kerjanya, ke tukang ojeg, ke supir container dsb. Beliau senang dengan pembeli yang lancar dalam pembayaran apalagi yang membeli dengan pembayaran tunai, ga kredit. Suatu saat beliau terlalu mempercayai banyak pembeli yang kredit dan akhirnya kelabakan menagih piutang-piutang tersebut, lama-lama ayah tidak menagih piutang tersebut karena kesal yang ngredit selalu menghindar bila ditagih. Ayah tidak lagi mengkreditkan jaket jualannya dan mem-blacklist pembeli yang telah merusak kepercayaannya. Sampai saat ini masih banyak piutang diluar yang belum tertagih. (hmm jumlahnya lumayan tuh).
Ibu yang ketika itu ngajar di salah satu SDN di Dayeuh Kolot sambil kuliah tidak mau kalah dengan ayah, beliau jualan sepatu kepada rekan kerja dan teman kuliahnya. Dalam berjualan sepatu ketika mengkreditkannya ibu tidak pantang menyerah menagih pembeli yang susah ditagih. Hampir setiap hari beliau menagih piutang, bila masih tidak membayar juga pas rekan kerjanya gajihan(yang punya utang) ibu memberikan isyarat kepada yang membagikan gaji agar memotong gaji orang yang punya utang untuk pembayaran utang sepatu. Hehehe :p cara ibu saya dalam menagih piutang kejam juga…Ya begitulah cara jualan orang tua saya, keduanya berbeda tindakan dalam mengahadapi konsumen yang bermasalah.
Balik lagi ke cerita tentang seminar
, nilai-nilai entrepreunership yang saya tangkap dari penuturan Pak Dwilarso tampaknya beberapa sudah dialami oleh orang tua saya. Seperti membangun kepercayaan, keberanian mengambil resiko, kreatif, inovatif, berpikir besar, percaya diri, konsisten dan sebagainya. Apapun jenis dan seberapapun besar peluang suatu bisnis konsep entrepreunership atau konsep bisnis apapun tidak akan berguna bila kita tidak memulai bisnisnya dan tidak belajar dari proses bisnis tersebut.
Yang paling saya setujui dari penuturan Pak Dwilarso adalah mengenai konsep kebahagian bagi rakyat Buthan. Menurut beliau orang Buthan rata-rata tingkat kesejahteraan rakyatnya secara ekonomi termasuk negara miskin di dunia. Tapi menurut suatu survey rakyat Buthan memiliki tingkat kebahagian hidup yang tinggi bila dibandingkan dengan rakyat di negara-negara maju. Pak Dwilarso memaparkan konsep kebahagian menurut orang Buthan, kebahagian bagi mereka adalah mendapati pendidikan yang cukup sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, kebahagian adalah menerima keadaan hidup dengan sukarela meskipun harus hidup pas-pasan, kebahagian adalah keseimbangan kehidupan duniawi dan spiritual. (Itu yang saya ingat, trus apa lagi ya ). Konsep kebahagian tersebut sebenarnya mendekati konsep ikhlas dan tawakal dalam islam yang notabene sudah ada sejak Nabi Ibrahim (mungkin sejak Adam dan Hawa hidup di bumi).
Semua penuturan Pak Onno secara umum saya setuju, namun ketika beliau memaparkan mengenai peraturan yang harus dipatuhin dan dilaksanakan oleh kita sebagai manusia beliau menggambarkannya dalam sebuah diagram hubungan vertikal dan horizontal. Seperti pada gambar:
Tuhan
^
|
|
Kiri < - - - - > Kanan
Kiri dan kanan adalah peraturan yang berbeda dari sekelompok manusia yang berbeda, beliau berkata (sebelumnya maap ni klo salah tangkep), “hubungan yang penting itu hubungan ke ATAS ke kanan dan ke kiri itu ga penting karena ‘kalkulator’ Tuhan tidak pernah salah hitung”..
Kalo menurut saya pribadi, hubungan ke atas atau dengan kata lain kepatuhan pada peraturan memang yang utama dan mutlak harus dipenuhi. Tetapi hubungan kekanan dan kekiri alias hubungan dengan sesama manusia juga tetap penting namun prioritasnya dibawah hubungan dengan Tuhan. Dalam berbisnis kita tetap harus mengikuti kebutuhan manusia lain yang mana punya prinsip dan keyakinan hidup yang berbeda karena kita sebagai manusia butuh orang lain. Sekelompok manusia memang berbeda dalam menentuka peraturan yang harus dipatuhi. Kita tinggal menyesuaikan dengan keyakinan kita terhadap peraturan dari Tuhan yang kita yakini.
Saya analogikan kasus ini dengan umat islam yang membeli sapi untuk idul qurban kepada peternak sapi umat hindu. Orang islam yang mampu wajib mengurbankan hewn ternaknya (salah satunya sapi) ketika idul qurban dan selama hari tasyrik, sementara itu umat Hindu sangat menyucikan sapi. Sapi tidak boleh disembelih apalagi dimakan dagingnya tetapi boleh dimanfaatkan hasil produksinya. Nah menurut saya tidak cocok bila umat Islam dengan sengaja membeli sapi kepada peternak sapi umat Hindu yang nantinya untuk dikurbankan pada saat Idul Qurban. Kecuali umat Hindu tersebut memiliki toleransi terhadap apa yang diyakini umat islam mengenai Idul Qurban. Sebaiknya berbisnis dengan umat Hindu berhubungan dengan jual beli sapi, sang sapinya untuk diambil manfaat berupa tenaga dan susu bukan dagingnya.
Begitulah beberapa komentar saya mengenai materi seminar technopreneurship ini. Bila ada kesalahan saya dalam menangkap materi atau memahami penuturan pembicara tolong dikoreksi.
Oh iya satu lagi, ternyata slide/materi yang disampaikan oleh Pak Dwilarso dan Mas Rendy tidak saya temukan dalam CD yang disertakan Seminar Technopreneurship tersebut. Tidak saya temukan atau memang tidak disertakan ya .. ?